Jumat, 07 Desember 2018

Berbagi ilmu tentang jurnalistik


LATIHAN DASAR PENULISAN JURNALISTIK
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PARIWISATA INTERNASIONAL
JAKARTA, 7 DESEMBER 2018
Pemateri : Eddy Dwinanto Iskandar
Praktisi Media
087875802348
Peserta : 30 mahasiswa/i
Durasi : 2 jam
Waktu : 08-10
TIU : Peserta memahami elemen dasar penulisan jurnalistik
TIK : Peserta mampu membuat artikel jurnalistik sederhana
Materi :
1. Apa itu Jurnalisme?
2. Apa itu Jurnalistik?
3. Apa itu Jurnalis?
4. Sembilan elemen jurnalisme = Mindset Jurnalis
5. Teknik Peliputan dan Penulisan Berita = Peralatan
A. jur.nal.is.me /jurnalismê/*
n pekerjaan mengumpulkan dan menulis berita di media massa cetak atau elektronik; kewartawanan
*https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jurnalisme
B. journalism
noun
jour·nal·ism | \ j r-n - li-z m \
Definition of journalism
1a : the collection and editing of news for presentation through the media
b : the public press
c : an academic study concerned with the collection and editing of news or the management of a news medium
2a : writing designed for publication in a newspaper or magazine
b : writing characterized by a direct presentation of facts or description of events without an attempt at interpretation
c : writing designed to appeal to current popular taste or public interest
Examples of journalism in a Sentence
She plans to major in journalism when she goes to college.
*https://www.merriam-webster.com/dictionary/journalism

II. Jurnalistik?
A. jur.na.lis.tik*
1. a yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran: hal itu melanggar kode etik --
2. n Kom seni kejuruan yang bersangkutan dengan pemberitaan dan persuratkabaran
*https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jurnalistik
Journalistic*
adjective
jour·nal·is·tic | \ j r-n - li-stik \
Definition of journalistic
: of, relating to, or characteristic of journalism or journalistsjournalistic principles
Examples of journalistic in a Sentence
Recent Examples on the Web
Standards for journalistic ethics vary widely from country to country.— Casey Newton, The Verge, "The UK’s inquiry into fake
news is focused on a long-dead bikini-finding app," 27 Nov. 2018
*https://www.merriam-webster.com/dictionary/journalistic


III. Jurnalis?
jur.na.lis*
 n orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita di media massa cetak atau elektronik; wartawan
*https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jurnalis
IV. Sembilan Elemen Jurnalisme*
Ada sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap jurnalis. Prinsip-prinsip ini telah melalui masa pasang dan
surut. Namun, dalam perjalanan waktu, terbukti prinsip-prinsip itu tetap bertahan.
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public
Should Expect (New York: Crown Publishers), merumuskan prinsip-prinsip itu dalam Sembilan Elemen Jurnalisme. Kesembilan elemen
tersebut adalah:
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga (citizens)
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Jurnalis harus tetap independen dari pihak yang mereka liput
5. Jurnalis harus melayani sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan
6. Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik maupun komentar dari public
7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting itu menarik dan relevan
8. Jurnalis harus menjaga agar beritanya komprehensif dan proporsional
9. Jurnalis memiliki kewajiban untuk mengikuti suara nurani mereka
10. Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait dengan berita.


1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
Kewajiban para jurnalis adalah menyampaikan kebenaran, sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi yang mereka butuhkan
untuk berdaulat (bersikap/mengambil keputusan).
Bentuk “kebenaran jurnalistik” yang ingin dicapai ini bukan sekadar akurasi, namun merupakan bentuk kebenaran yang praktis dan
fungsional.
Ini bukan kebenaran mutlak atau filosofis. Tetapi, merupakan suatu proses menyortir (sorting-out) yang berkembang antara cerita awal, dan
interaksi antara publik, sumber berita (newsmaker), dan jurnalis dalam waktu tertentu. Prinsip pertama jurnalisme—pengejaran kebenaran,
yang tanpa dilandasi kepentingan tertentu (disinterested pursuit of truth)—adalah yang paling membedakannya dari bentuk komunikasi lain.
Contoh kebenaran fungsional, misalnya, polisi menangkap tersangka koruptor berdasarkan fakta yang diperoleh.
Kebenaran Filosofis > benarkah korupsi demi keadilan social?
Lalu kejaksaan membuat tuntutan dan tersangka itu diadili. Sesudah proses pengadilan, hakim memvonis, tersangka itu bersalah atau tidak￾bersalah. Apakah si tersangka yang divonis itu mutlak bersalah atau mutlak tidak-bersalah? Kita memang tak bisa mencapai suatu kebenaran
mutlak. Tetapi masyarakat kita, dalam konteks sosial yang ada, menerima proses pengadilan –serta vonis bersalah atau tidak-bersalah--
tersebut, karena memang hal itu diperlukan dan bisa dipraktikkan. Jurnalisme juga bekerja seperti itu.
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga (citizens)
Organisasi pemberitaan dituntut melayani berbagai kepentingan konstituennya: lembaga komunitas, kelompok kepentingan lokal,
perusahaan induk, pemilik saham, pengiklan, dan banyak kepentingan lain. Semua itu harus dipertimbangkan oleh organisasi pemberitaan
yang sukses. Namun, kesetiaan pertama jurnalisme harus diberikan kepada warga (citizens). Ini adalah implikasi dari perjanjian
dengan publik.
Kesetiaan pada warga ini adalah makna dari independensi jurnalistik. Independensi adalah bebas dari semua kewajiban, kecuali
kesetiaan terhadap kepentingan publik. Jadi, jurnalis yang mengumpulkan berita tidak sama dengan karyawan perusahaan biasa, yang
harus mendahulukan kepentingan majikannya. Jurnalis memiliki kewajiban sosial, yang dapat mengalahkan kepentingan langsung
majikannya pada waktu-waktu tertentu, dan kewajiban ini justru adalah sumber keberhasilan finansial majikan mereka.
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
Yang membedakan antara jurnalisme dengan hiburan (entertainment), propaganda, fiksi, atau seni, adalah disiplin verifikasi.
Hiburan –dan saudara sepupunya “infotainment”—berfokus pada apa yang paling bisa memancing perhatian. Propaganda akan menyeleksi
fakta atau merekayasa fakta, demi tujuan sebenarnya, yaitu persuasi dan manipulasi. Sedangkan jurnalisme berfokus utama pada apa
yang terjadi, seperti apa adanya.
Disiplin verifikasi tercermin dalam praktik-praktik seperti mencari saksi-saksi peristiwa, membuka sebanyak mungkin sumber berita, dan
meminta komentar dari banyak pihak. Disiplin verifikasi berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi sebenar-benarnya. Dalam kaitan
dengan apa yang sering disebut sebagai “obyektivitas” dalam jurnalisme, maka yang obyektif sebenarnya bukanlah jurnalisnya, tetapi
metode yang digunakannya dalam meliput berita.
Ada sejumlah prinsip intelektual dalam ilmu peliputan:
1) Jangan menambah-nambahkan sesuatu yang tidak ada;
2) Jangan mengecoh audiens;
3) Bersikaplah transparan sedapat mungkin tentang motif dan metode Anda;
4) Lebih mengandalkan pada liputan orisinal yang dilakukan sendiri;
5) Bersikap rendah hati, tidak menganggap diri paling tahu.
4. Jurnalis harus tetap independen dari pihak yang mereka liput
Jurnalis harus tetap independen dari faksi-faksi. Independensi semangat dan pikiran harus dijaga wartawan yang bekerja di ranah opini,
kritik, dan komentar. Jadi, yang harus lebih dipentingkan adalah independensi, bukan netralitas. Adalah penting untuk menjaga
semacam jarak personal, agar jurnalis dapat melihat segala sesuatu dengan jelas dan membuat penilaian independen. Sekarang ada
kecenderungan media untuk menerapkan ketentuan “jarak” yang lebih ketat pada jurnalisnya. Misalnya, mereka tidak boleh menjadi
pengurus parpol atau konsultan politik politisi tertentu.
Independensi dari faksi bukan berarti membantah adanya pengaruh pengalaman atau latar belakang si jurnalis, seperti dari segi ras, agama,
ideologi, pendidikan, status sosial-ekonomi, dan gender. Namun, pengaruh itu tidak boleh menjadi nomor satu. Peran sebagai jurnalislah
yang harus didahulukan.
5. Jurnalis harus melayani sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan
Jurnalis harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan. Wartawan tak sekedar memantau pemerintahan, tetapi semua


lembaga kuat di masyarakat. Pers percaya dapat mengawasi dan mendorong para pemimpin agar mereka tidak melakukan hal-hal
buruk, yaitu hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan sebagai pejabat publik atau pihak yang menangani urusan publik. Jurnalis juga
mengangkat suara pihak-pihak yang lemah, yang tak mampu bersuara sendiri.
6. Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik maupun komentar dari publik
Apapun media yang digunakan, jurnalisme haruslah berfungsi menciptakan forum di mana publik diingatkan pada masalah-masalah
yang benar-benar penting, sehingga mendorong warga untuk membuat penilaian dan mengambil sikap. Forum yang tidak berlandaskan
pada fakta akan gagal memberi informasi pada publik. Yang tak kalah penting, forum ini harus mencakup seluruh bagian dari
komunitas, bukan kalangan ekonomi kuat saja atau bagian demografis yang menarik sebagai sasaran iklan.
7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting itu menarik dan relevan
Tugas jurnalis adalah menemukan cara untuk membuat hal-hal yang penting menjadi menarik dan relevan untuk dibaca, didengar atau
ditonton. Untuk setiap naskah berita, jurnalis harus menemukan campuran yang tepat antara yang serius dan yang kurang-serius,
dalam pemberitaan hari mana pun.
Singkatnya, jurnalis harus memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan orang untuk memahami dunia, dan
membuatnya bermakna, relevan, dan memikat. Dalam hal ini, terkadang ada godaan ke arah infotainment dan sensasionalisme.
8. Jurnalis harus menjaga agar beritanya komprehensif dan proporsional
Jurnalisme itu seperti pembuatan peta modern. Ia menciptakan peta navigasi bagi warga untuk berlayar di dalam masyarakat. Maka
jurnalis juga harus menjadikan berita yang dibuatnya proporsional dan komprehensif.
Dengan mengumpamakan jurnalisme sebagai pembuatan peta, kita melihat bahwa proporsi dan komprehensivitas adalah kunci akurasi.
Kita juga terbantu dalam memahami lebih baik ide keanekaragaman dalam berita.
9. Jurnalis memiliki kewajiban untuk mengikuti suara nurani mereka
Setiap jurnalis, dari redaksi hingga dewan direksi, harus memiliki rasa etika dan tanggung jawab personal, atau sebuah panduan moral.
Terlebih lagi, mereka punya tanggung jawab untuk menyuarakan sekuat-kuatnya nurani mereka dan membiarkan yang lain melakukan hal
yang serupa. Agar hal ini bisa terwujud, keterbukaan redaksi adalah hal yang penting untuk memenuhi semua prinsip jurnalistik.Gampangnya mereka yang bekerja di organisasi berita harus mengakui adanya kewajiban pribadi untuk bersikap beda atau menentang
redaktur, pemilik, pengiklan, dan bahkan warga serta otoritas mapan, jika keadilan (fairness) dan akurasi mengharuskan mereka
berbuat begitu.
Dalam perkembangan berikutnya, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambahkan elemen ke-10. Yaitu:
10. Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait dengan berita.
Elemen terbaru ini muncul dengan perkembangan teknologi informasi, khususnya internet. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif
dari media, tetapi mereka juga menciptakan media sendiri. Ini terlihat dari munculnya blog, jurnalisme online, jurnalisme warga
(citizen journalism), jurnalisme komunitas (community journalism) dan media alternatif. Warga dapat menyumbangkan pemikiran, opini,
berita, dan sebagainya, dan dengan demikian juga mendorong perkembangan jurnalisme. ***
Jakarta, Mei 2009
Sumber utama:
Bill Kovach & Tom Rosenstiel. 2001. The Elements of Journalism. New York: Crown Publishers.
*Dalam : http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2009/05/sembilan-elemen-jurnalisme-plus-elemen.html
Sembilan Elemen Jurnalisme Wajib Diterapkan Oleh Jurnalis.
V.Teknik Peliputan dan Penulisan Berita*
Teknik reportase atau teknik peliputan berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para jurnalis. Namun, membahas
teknik reportase, berarti juga membahas bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu
acara, kegiatan atau peristiwa.
Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita. Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan
redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media
dengan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi
yang dianutnya.
 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online – Berita atau kabar adalah cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.
Berita juga berarti laporan, pemberitahuan, atau pengumuman.
 Dictionary of Media – Berita adalah laporan dari kejadian atau peristiwa yang baru saja terjadi dalam sebuah surat kabar, televisi, radio,
atau laman.
 Dictionary of Mass Communication and Media Research – Berita adalah laporan dari suatu kejadian atau peristiwa yang baru saja terjadi
atau laporan yang muncul di media massa.
Kriteria Kelayakan Berita/Newsworthiness
Berikut ini adalah sejumlah kriteria kelayakan berita, yang bersifat umum untuk semua media:
 Penting. Suatu peristiwa diliput jika dianggap punya arti penting bagi mayoritas khalayak pembaca, pendengar, atau
pemirsa. Tentu saja, media tidak akan rela memberikan space atau durasinya untuk materi liputan yang remeh.
Kenaikan harga bahan bakar minyak, pemberlakuan undang-undang perpajakan yang baru, kenaikan harga bahan
bakar minyak (BBM), dan sebagainya, jelas penting karena punya dampak langsung pada kehidupan khalayak.
 Aktual. Suatu peristiwa dianggap layak diliput jika baru terjadi. Maka, ada ungkapan tentang berita “hangat,“ artinya
belum lama terjadi dan masih jadi bahan pembicaraan di masyarakat. Kalau peristiwa itu sudah lama terjadi, tentu tak
bisa disebut berita “hangat,” tetapi lebih pas disebut berita “basi.” Namun, pengertian “baru terjadi” di sini bisa berbeda,
tergantung jenis medianya. Untuk majalah mingguan, peristiwa yang terjadi minggu lalu masih bisa dikemas dan
dimuat. Untuk suratkabar harian, istilah “baru” berarti peristiwa kemarin. Untuk media radio dan televisi, berkat
kemajuan teknologi telekomunikasi, makna “baru” adalah beberapa jam sebelumnya atau “seketika” (real time).
Contohnya, siaran langsung pertandingan sepakbola Piala Dunia.
 Unik. Suatu peristiwa diliput karena punya unsur keunikan, kekhasan, atau tidak biasa. Orang digigit anjing, itu biasa.
Tetapi, orang mengigit anjing, itu unik dan luar biasa. Di sekitar kita, selalu ada peristiwa yang unik dan tidak biasa.
 Asas Kedekatan (proximity). Suatu peristiwa yang terjadi dekat dengan kita (khalayak media), lebih layak diliput
ketimbang peristiwa yang terjadi jauh dari kita. Kebakaran yang menimpa sebuah pasar swalayan di Jakarta tentu lebih
perlu diberitakan ketimbang peristiwa yang sama tetapi terjadi di Ghana, Afrika. Perlu dijelaskan di sini bahwa
“kedekatan” itu tidak harus berarti kedekatan fisik atau kedekatan geografis. Ada juga kedekatan yang bersifat
emosional. Agresi Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, misalnya, secara geografis jauh dari
kita, tetapi secara emosional tampaknya cukup dekat bagi khalayak media di Indonesia.
 Asas Keterkenalan (prominence). Nama terkenal bisa menjadikan berita. Sejumlah media pada Juni-Juli 2006 ini
ramai memberitakan kasus perceraian artis Tamara Bleszynski dan suaminya Teuku Rafli Pasha, serta perebutan hak
asuh atas anak antara keduanya. Padahal di Indonesia ada ratusan atau bahkan ribuan pasangan lain, yang bercerai
dan terlibat sengketa rumah tangga. Namun, mengapa mereka tidak diliput? Ya, karena sebagai bintang sinetron dan
bintang iklan sabun Lux, Tamara adalah figur selebritas terkenal.
 Magnitude. Mendengar istilah magnitude, mungkin mengingatkan Anda pada gempa bumi. Benar. Magnitude ini berarti
“kekuatan” dari suatu peristiwa. Gempa berkekuatan 6,9 skala Richter pasti jauh lebih besar dampak kerusakannya,
dibandingkan gempa berkekuatan 3,1 skala Richter. Dalam konteks peristiwa untuk diliput, sebuah aksi demonstrasi
yang dilakukan 10.000 buruh, tentu lebih besar magnitude-nya ketimbang demonstrasi yang cuma diikuti 100 buruh.
Kecelakaan kereta api yang menewaskan 200 orang pasti lebih besar magnitude-nya daripada serempetan antara
becak dan angkot, yang hanya membuat penumpang becak menderita lecet-lecet. Semakin besar magnitude-nya,
semakin layak peristiwa itu diliput.
 Human Interest. Suatu peristiwa yang menyangkut manusia, selalu menarik diliput. Mungkin sudah menjadi bawaan
kita untuk selalu ingin tahu tentang orang lain. Apalagi yang melibatkan drama, seperti: penderitaan, kesedihan,
kebahagiaan, harapan, perjuangan, dan lain-lain. Topik-topik kemanusiaan semacam ini biasanya disajikan dalam
bentuk feature.
Unsur konflik. Konflik, seperti juga berbagai hal lain yang menyangkut hubungan antar-manusia, juga menarik untuk
diliput. Ketika ppahlawan sepakbola Perancis, Zinedine Zidane, “menanduk” pemain Italia, Marco Materrazzi, dalam
pertandingan final Piala Dunia, Juli 2006 lalu, ini menarik diliput. Mengapa? Ya, karena sangat menonjol unsur konflik
dan kontroversinya. Bahkan, kontroversi kasus Zidane ini lebih menarik daripada pertandingan antara kesebelasan
Perancis dan Italia itu sendiri.
 Trend. Sesuatu yang sedang menjadi trend atau menggejala di kalangan masyarakat, patut mendapat perhatian untuk
diliput media. Pengertian trend adalah sesuatu yang diikuti oleh orang banyak, bukan satu-dua orang saja. Misalnya, suatu gaya mode tertentu yang unik, perilaku kekerasan antar warga masyarakat yang sering terjadi, tawuran
antarpelajar, dan sebagainya.
Dalam memilih topik liputan, bisa saja tergabung beberapa kriteria kelayakan. Misalnya, kasus mantan anggota The
Beatles, John Lennon, yang pada 1980 tewas ditembak di depan apartemennya di New York oleh Mark Chapman.
Padahal beberapa jam sebelumnya, Chapman sempat meminta tanda tangan Lennon. Chapman mengatakan, ia
mendengar “suara-suara” di telinganya yang menyuruhnya membunuh Lennon.
Mari kita lihat kriteria kelayakan berita ini. Pertama, Lennon adalah seorang selebritas yang terkenal di seluruh dunia
(unsur keterkenalan). Kedua, penembakan terhadap seorang bintang oleh penggemarnya sendiri, jelas peristiwa luar
biasa dan jarang terjadi (unsur keunikan). Ketiga, meskipun peristiwa itu terjadi di lokasi yang jauh dari Indonesia, para
penggemar The Beatles di Indonesia pasti merasakan kesedihan mendalam akibat tewasnya Lennon tersebut (unsur
kedekatan emosional). Dan seterusnya.
*Dalam : http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2008/07/teknik-reportase-atau-peliputan-berita.html?m=1
Menulis Berita*
Menulis berita dengan baik adalah sangat penting dalam kegiatan jurnalistik. Jika jurnalis tidak bisa menulis berita dengan baik maka berbagai
berita penting, kisah-kisah yang menarik, analisis mendalam, ulasan pendapat, dan kabar gosip tidak akan mampu menjangkau khalayak sasaran.
Jenis Berita
Menurut David Demers (2005 : 210), berita dapat dibedakan ke dalam dua macam yaitu “hard news” dan “soft news”.
1. Hard news
Hard news merujuk pada pelaporan berita tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi misalnya berita-berita politik dan kriminal. Umumnya,
hard news mencakup berita-berita terbaru yang ditulis dengan gaya piramida terbalik.
2. Soft news
Soft news merujuk pada pelaporan berita yang terkait dengan tema human interest atau profil seseorang.
Unsur-unsur Hardnews/Straight News
1. Aktualitas
2. Piramida terbalik
3. Kelengkapan berita (5W + 1 H) (What, When, Where, Who, Why+How)
4. Informatif
5. Singkat dan padat (100-200 kata atau 1500 – 2000 karakter with space)
Anatomi Berita
Anatomi berita terdiri dari 4 elemen:
1. Judul
2. Teras (lead)
3. Tubuh
4. Kaki
1. Unsur Judul:
1. Tidak beropini
2. Merupakan rangkuman isi berita
3. Harus sesuai dengan isi berita (sinkron)
4. Jelas, singkat dan sederhana
5. Utamakan menggunakan kalimat aktif, baru kemudian kalimat pasif.
Fungsi Judul
Terkait dengan judul, sebuah judul harus memenuhi 3 fungsi di bawah ini:
1. Merangkum
2. Mengiklankan
3. Mempercantik (kemasan berita)
Judul akan menjadi representasi dari berita itu sendiri, oleh karena itu penting untuk memperhatikan ketiga hal di atas dalam memilih judul
sebuah berita.
Bagaimana cara menulis judul yang efektif?
Judul tidak lebih dari 6 kata. Jika untuk mengurangi space di media cetak, maksimal 4 kata. HIndari kata-kata pasif
2. Struktur Teras (Lead)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah lead berita:
1. Singkat dan spesifik
2. Hindari bentuk pertanyaan atau kutipan
3. Identifikasi berupa keterangan waktu dan tempat yang jelas.
3.Tubuh Berita
Cara menuliskan tubuh berita/isi berita?
1. Tulis dengan cara penulisan yang semenarik mungkin
2. Singkat, padat dan sederhana
3. Gunakan piramida terbalik
4.Kaki Berita (Leg)
Memuat informasi penunjang / kurang penting.
Ragam Soft News
1.Views/Opini
View adalah pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa.
Jenis informasi ini antara lain adalah kolom, tajuk rencana, artikel, surat pembaca, karikatur, pojok, rehat dan esai.
2.Features
Features adalah tulisan hasil reportase (peliputan) mengenai suatu objek atau peristiwa yang bersifat memberikan informasi, mendidik,
menghibur, meyakinkan, serta menggugah simpati atau empati pembaca. Penulisan jenis ini tidak terikat oleh 5W + 1H dan tidak terikat
waktu, jadinya lebih awet.
Bagaimana mengemas sebuah berita dalam bentuk features?
1. Gali sisi human interest dalam hardnews
2. Kemas berita dalam bentuk story telling/cerita
3. Bedah peristiwa dengan pisau utama: How dan Why
4. Siasat bersaing dengan straight news.
5. Awetkan berita hingga tidak basi (ever lasting news)
6. Penulisan features berkisar 4000 – 5000 karakter.
*Dalam : https://flp.or.id/amp/teknik-peliputan-dan-penulisan-berita-news/
Practise Makes Perfect
Those who doesn't practice don’t deserve to win - Andre Agassi

Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kata kata

Belajarlah dari masa lalu kamu meskipun menyakitkan akan tetapi sangat berharga. Guru saya pernah bilang bahwa persahabatan akan memut...